Lahan Belum Dibayar, Warga Palang Jalan Menuju Pabrik PT. Antam

856
Aksi Palang Jalan Oleh Warga

BULI, CH – Aktifitas penambangan maupun proses pembangunan Pabrik Feronikel milik PT. Antam di Tanjung Buli Kecamatan Maba Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) Propinsi Maluku Utara bakal ikut terganggu.

Pasalnya, akses jalan menuju proyek pabrik tersebut dipalang oleh warga pemilik lahan. Informasi yang dihimpun wartawan media Cerminhalmahera.com, warga terpaksa memalang jalan dari arah Buli menuju areal pertambangan dan lokasi pabrik karena PT. Antam belum membayar sisa lahan seluas 31 hektar milik 11 warga Desa Buli Asal, Wayafli dan Desa Buli. Tidak hanya palang jalan, warga juga membangun posko atau tenda di atas badan jalan.

Gerson Baepa, sala satu pemilik lahan mengaku, aksi palang jalan itu sebenarnya terjadi pada pagi hari, namun masih ada negosiasi dengan pihak Antam, sehingga aksi palang jalan itu baru dilakukan siang hari sekitar pukul 14.00 WIT, Kamis (5/9/2019) setelah hasil negosiasi dengan PT. Antam tidak membuahkan hasil.

“Sebenarnya sejak pagi sudah melakukan aksi palang jalan, namun Ko Enge Tandean yang juga memiliki lahan  masih melakukam negosasi dengan pihak Antam. Karna pihak Antam masi janji lagi, maka kami pemilik lahan langsung melakukan pemalangan jalan,” kata Gerson.

BACA JUGA  Polres Haltim Sosialisasi Tingkat Ketahanan Desa Dimasa Covid-19

Masih menurut Gerson, lahan seluas 31 hektar di areal pertambangan itu sebagianya memiliki sertifikat dan sebagianya tidak memiliki sertifikat. “Yang ada sertifikat 3 orang atas nama Ciheng Tandean 6 hektar, Min Guslaw, dan Ona Guslaw,  dengan harga per meter yang memiliki sertifikat Rp.16 ribu per meter, sedangkan yang tidak memiliki sertifikat sebesar Rp. 5.500 per meter,” sebutnya.

Kepala Desa Wayafli Yehuda Guslaw, saat dikonfirmasi membenarkan adanya pemalangan jalan tersebut. Menurutnya, aksi pemalangan jalan itu terjadi setelah hasil negosiasi alasan dari PT. Antam lahan warga itu belum dibayar karena belum dibutuhkan oleh pihak perusahaan.

“Jawaban dari pihak Antam  bahwa belum mebutuhkan lahan tersebut, jadi kalau mau bayar sekarang tidak bisa, karena antam belum memerlukannya, namun kami dari pihak Antam harus berkoordinasi dulu dengan Antam pusat,” jelas Yehuda, meniru ucapan Mas Koko dari pihak CSR PT. Antam.

Lanjut Yehuda, setelah mendengar jawaban dari pihak PT. Antam, warga pemilik lahan langsung melakukan aksi pemalangan jalan dengan alasan sudah berulang kali pihak PT. Antam ingkar janji terhadap warga pemilik lahan. “Enge (pemilik lahan) sudah tidak mau lagi, katanya sudah banyak janji-janji yang antam berikan, maka pemilik lahan langsung menuju lokasi lahan tersebut dan palang jalan serta membuat tenda,”Ujar Yehuda.

BACA JUGA  Mahasiswa Demo PT. Antam Minta Bubarkan Tim Verifikasi Beasiswa

Yehuda menambahkan,   aksi pemalanagan jalan itu akan memakan waktu yang lama, karena warga tidak mau membuka akses jalan itu hingga PT. Antam membayar lahan milik warga tersebut. “Sampai ada kepastian dari perusahaan,  pemalangan jalan ini membuat karyawan (tenaga kerja) harus melalui akses jalan dari Desa Maba Pura untuk menuju lokasi tambang,”tutupnya.

Sementara itu, wartawan cerminhalmahera.com mencoba menghubungi pihak CSR PT. Antam melalui telpon seluler, namun sampai berita ini ditayang belum ada jawaban balik. (Red)

Reporter : Nehemia Bustami

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here