Guru Hidup Melarat Itu Biasa

321

(Sebuah Ikhtiar Pemahaman Memperingati 76 Tahun Hari Guru dan PGRI Nasional)

Penulis: Aton Bagaskara Jafar, S.Pd
GTT PPKn dan Sejarah SMA Negeri 3 Haltim

Pandangan umum tentang guru dan kesejahteraannya di tengah-tengah masyarakat tidak mendapat perhatian serius dan dianggap penting. Menjadi guru merupakan profesi mulia, sehingga pekerjaannya jika mengharapkan jasa  membuat kemuliaan dan niat baik memperbaiki negeri terkesan tidak ikhlas. Sehingga jika guru menuntut dibayar itu dianggap tidak baik.

Masalah ini telah mengakar dan membudaya di tengah-tengah masyarakat Indonesia dengan kalimat kemuliaan “guru pahlawan tanpa tanda jasa”. Kalimat ini hadir sebagai penghargaan peran guru di awal kemerdekaan yang terlibat aktif mencerdaskan kehidupan bangsa (Baca: Indra Gunawan).

Suatu kalimat penghargaan terhadap jasa guru yang berdampak negatif pada kesejahteraan guru itu sendiri. Dikatakan berdampak negatif pada kesejahteraan guru itu sendiri dikarenakan kalimat ini telah membudaya, membentuk pandangan masyarakat bahwa guru hidup melarat itu biasa. Pandangan ini menjadi langgeng karena terkonstruksi dengan baik dalam kehidupan sosial.

Jika kita menggunakan teori sibernetik untuk menggambarkan alur dan kuatnya kekuatan kalimat ini terhadap guru, akan terlihat jelas dan terang. Parson dalam teori sibernetik mengatakan dalam kehidupan masyarakat terdapat empat system, yang pertama budaya, yang kedua masyarakat, dan yang ketiga individu serta yang keempat perilaku.

Kalimat “guru pahlawan tanpa tanda jasa” telah membudaya, membentuk pemahaman masyarakat akan posisi guru. Guru itu hidupnya sederhana, kesekolah dengan sepeda tua, dengan sikap sabar dan ikhlas dan hidup kekurangan itu biasa. Konstruksi pemahaman ini tergambar dengan baik di sebagian besar masyarakat Indonesia.

Karena pemahaman ini sudah terbentuk di tengah-tengah masyarakat, maka individu yang memiliki pandangan berbeda dengan masyarakat akan memposisikan diri searah dengan pandangan masyarakat untuk menentukan benar salah dalam bersikap. Sehingga gaji guru honorer di bawah upah minimum regional (UMR) tidak dipersoalkan, gaji ditunda berbulan-bulan pun diam seribu bahasa.

Kalimat “guru pahlawan tanpa tanda jasa” tidak memiliki tekanan paksaan layaknya norma hukum, tetapi konstruksi pemahaman yang berkembang di masyarakat membentuk perilaku setiap individu dan merembet pada psikologi dan cara pandang para pengambil kebijakan, sehingga berdampak nyata pada nasib guru. Ini yang disebut dengan kemiskinan secara struktural, kemiskinan yang disebabkan dari kondisi struktur, atau tatanan kehidupan yang tidak menguntungkan.

Bertolak dari persoalan diatas, PGRI harus bersikap! Melalui organisasi nasional yang mengakar sampai tingkat kecamatan dan menjalar di semua sekolah, mulai dari guru pendidikan anak usia dini sampai menengah atas. Sadari betul bahwa PGRI organisasi besar, yang bukan hanya besarannya digambarkan dengan anggota yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, tetapi jasanya juga besar dalam mewujudkan cita-cita nasional.

Negeri ini berhutang terhadap jasa guru, pembangunan dan manusia-manusia unggul dan berguna terbentuk dengan sentuhan guru. Guru sebagai agen perubahan, perubahan tidak hanya di ranah intelektual saja, melainkan perubahan pada moral, spiritual, sosial dan kebiasaan (Baca: Bumbungan:2016).

Berkaitan dengan jasa dan kesejahteraan guru yang tidak sebanding, dan usaha pemerintah pusat dengan mengangkat status guru honorer sebagai aparatur sipil Negara (ASN) melalui tes pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK), serta permasalahan lain seperti gaji guru honorer yang belum dibayar harus menjadi prioritas kerja PGRI, sebagai organisasi professional, perjuangan dan ketenagakerjaan.

Perjuangkan semua guru untuk diangkat statusnya menjadi ASN, gaji guru yang belum dibayar, harus segera dibayar. Guru juga manusia, yang diliputi oleh kebutuhan dan tuntutan hidup, jika kesejahteraan guru tidak diperhatikan akan berdampak pada kemajuan pendidikan***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here