Kisah Pria Paruh Baya Di Halbar Yang Mampu Menyekolahkan 9 Anaknya

1124

Malik Mabe Bersama Sang Istri Keduanya (Foto: Riko CH)


PRIA PARUH BAYA yang sudah berusia sekitar 70 tahun ini tampak kelelahan saat ditemui  cerminhalmahera.com. Dia nampaknya baru sajah pulang dari kebun, sore itu sekitar pukul 17.00 WIT. Meskipun terlihat kelelahan, pria dengan nama asli Malik Mabe ini tampak senyum melihat kedatangan saya.

Setelah mempersilahkan duduk, kami berdua pun mulai membuka percakapan. Singkat cerita, Malik pun langsung mengisahkan perjalan hidup dalam menyekolahkan 9 anaknya. Malik mulai terjun sebagai petani di usia yang masih sangat muda, yakni berumur 19 tahun. Seumuran ini semestinya masih berada di bangku pendidikan. Namun nasib berkata lain, dia terpaksa menikah dengan istri pertama dan memilih untuk berkebun.

“Di kala itu usia saya masi sangat mudah  sekitar 19 tahunlah dan pada umur-umur itu saya suda pergi kerja untuk bongkar hutan  tanam kelapa dan pala,” kisah Malik sambil menatap sang istri yang duduk  membuka fuli pala tak jauh dari kami.

Pria yang menikah dengan istri pertama pada Tahun 1970 itu dikaruniai 7 orang anak. Hal ini tentunya membuat sang ayah ini harus bekerja lebih ekstra untuk memenuhi kebutuhan mereka yang semakin membengkak. Seperti biasa, Malik bersama sang istri ke luar pagi pulang sore dari kebun hanya untuk mencari uang demi menyekolahkan ke 7 anak tersebut dan sisanya untuk kebutuhan mereka sehari-hari.

“Saya kerja bertani ini menanam dua komoditi yakni kelapa dan pala, kelapa 100 pohon dan pala 80 pohon,” sebutnya.

Hingga pada 2003, Malik mengaku menikah lagi dengan istri kedua. Pernikahan yang kedua kalinya ini, mereka dikarunia 2 orang anak. Dengan demikian total 9 anak yang ia harus menanggung beban untuk menyekolahkan mereka hingga ke perguruan tinggi dengan mengandalkan hasil kebun yang ia miliki.

BACA JUGA  Sekolah Swasta Tak Ada Perhatian Pemda, Kemenag Bakal Datangi DPRD Halbar

“Alhamdulillah hasilnya, anak  7 orang dari isteri pertama bisa sekolah semua, mulai dari SD, SMP sampai tamat SMA tetapi dari ke 7 anak ini hanya anak paling tua saja yang melanjutkan ke perguruan tinggi sampai  wisuda,

Setelah selesai wisuda dua hari kemudian  ada satu sekolah SMA di Manado panggil untuk jadi guru di sana dan 1 tahun dia mangajar langsung jadi kepala sekolah,” ujarnya sambil tersenyum bangga.

Sementara 6 anak lainya tidak sampai ke perguruan tinggi. Bukan berarti sang ayah ini tidak mampu mengantarkan mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, melainkan kemauan anak-anak yang tidak mau melanjutkan pendidikan. Padahal bagi sang ayah, pendidikan adalah segalanya meskipun menjalani hidup dalam segala kekurangan. “Saya kerja hanya untuk demi anak-anak saya untuk bisa sekolah, tapi mereka (enam anaknya) tidak serius sekolah akhirnya gagal tidak seperti kakak mereka,” imbuhnya.

Tak hanya sampai di situ, petani asal Desa Sokonora Kecamatan Jailolo Kabupaten Halmahera Barat Propinsi Maluku Utara ini masih terus berjuang meskipun penglihatanya sudah mulai buram dan sudah mulai keriput termakan usia. Kakek ini tidak patah semangat untuk terus bekerja demi menyekolahkan dua anak dari hasil pernikan dengan istri keduanya.

“Alhamdulillah kedua-duanya dorang  kulia samua di Unkhair, yang tua sudah wisuda beberapa bulan lalu dan yang kedua masih semester tujuh,” tuturnya dengan rasa sukur.

Meskipun berhasil mengantarkan ketiga anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Sang kakek ini tetap semangat bekerja untuk salah satu anaknya yang saat ini masih mengenyam pendidikan di Universitas Khairun Ternate Maluku Utara itu. Dia berharap suatu saat nanti, anaknya ini bisa berguna untuk nusa dan bangsa.

“Jadi dorang kulia saat ini torang orang tua berdoa kalau selesai dari kulia pemerintah dorang bisa pakai otak anak-anak untuk kerja,” harapnya.

BACA JUGA  Pekan Depan Walikota Ternate Dan Bupati Halbar Bertemu Bahas Tiket Speed Boat

Masih ditemani sang istri kedua, Malik mengisahkan sudah kurang lebih 60 tahun dia bekerja sebagai petani dengan hanya mengandalkan 100 pohon kelapa dan 80 pohon palah. Tanaman musiman ini kadang membuatnya kewalahan disaat harga kopra dan palah turun harga. Meski demikian dia bersama sang istri tetap bersabar. Bagi dia dan sang istri, kunci kesuksesan adalah sabar dan berdoa kepada Allah SWT.

“Saya kerja menjadi seorang petani ini kurang lebih sekitar 60 tahun, mulai tahun 1970 sampai sekarang tahun 2021, Jadi kalau di hitung-hitung suda 60 tahun lamanya. 60 tahun ini waktu cukup lama butuh kesabaran dan ketakwaan kepada Allah SWT untuk menjalaninya karena kalau tidak sabar pastinya apa yang kita kerjakan sia-sia,” sambungnya.

Masih di tempat duduk di samping rumahnya, Malik mengaku demi hanya untuk anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan, dia bersama sang istri makan seadanya saja. Rumah yang dia tinggal bersama sang istri juga tidak bisa dibangun lebih baik.

“Demi anak-anak kulia dan sekolah saja dinding rumah tidak bisa cat, dapur rumah yang dindingnya gaba tidak bisa bangun dengan beton,” akunya, sambil menunjuk ke arah rumahnya.

Suatu saat nanti, jika kedua anak dari istri kedua ini berhasil mendapatkan pekerjaan yang mapan. Sang ayah ini mengaku tidak akan minta apa-apa dari mereka. Merasa bangga itu sudah lebih dari cukup yang ia dapatkan nanti. “Orang tua itu tidak membutuhkan apa-apa dari anak-anak setelah sukses,

yang penting anak-anak sanang dan bahagia, jangan sama lagi dengan orang tua, cukup sebatas orang tua yang merasakan, jangan terbawa di anak-anak,”tutupnya dengan senyum terpancar diwajahnya.

Riko Noho

Reporter: Riko Noho

2 KOMENTAR

  1. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Selamat malam dan salam sejahtera untuk kita semua. Saya sangat mengapresiasi sekali dalam penulisan artikel ini, serta ucapan terimakasih kepada bang Riko Noho sebagai reporter dalam pembuatan artikel ini. Mungkin sedikit koreksi dari saya. Yang pertama beliau bernama Hi. Malik Mape (Bukan Mabe🙏) dan yang kedua Beliau memperistri Ibu Samsia Mukaram (Istri kedua) di tahun 1995 bukan 2003. Terimakasih…

    Salam dari anak pertamanya Rahmat M Mape

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here