Pihak Kesultanan Bahas Rekonstruksi Hubungan Sejara Budaya Tidore-Papua

651

Kegiatan FGD Rekonstruksi Hubungan Sejarah dan Budaya Tidore – Papua (Foto: Musa CH)


TIDORE, CH – Kesultan Tidore berhasil menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Rekonstruksi Hubungan Sejarah dan Budaya Tidore – Papua. Kegiatan ini untuk memperkuat ketahanan nasional dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kegiatan ini menghadirkan Wakil Ketua DPD Republik Indonesia Dr. Nono Sampono di dampingi Sultan Tidore Husain Alting Syah, Pj Sekretaris Daerah Kota Tikep, Muhammad Miftah Baay dan Asisten II Setda Provinsi Maluku Utara Umar Sangaji.

Selain Dr. Nono Sampono bersama Sultan Tidore Husain Alting Syah sebagai narasumber, hadir juga narasumber
Anggota DPD RI Provinsi Papua Barat Filep Wamafma, Rektor Universitas Khairun Prof. Dr. Husen Alting, Dosen Sosiologi Universitas Muhammadyah Dr. Herman Oesman dan Dr Abdul Haris yang merupakan Sejarawan yang juga Koorpus Sosial, Humaniora dan Ekonomi LPPM Universitas Negeri Jakarta, dengan Moderator Jamal Hi. Arsyad Dekan Fakultas Hukum, Universitas Khairun.

FGD yang berlangsung di Kadaton Kie Kesultanan Tidore, Rabu (18/11/2020) ini
merupakan kerjasama DPD RI dengan Lembaga Adat Kesultanan Tidore dan Universitas Khairun Ternate. Selain tatap muka dengan penerapan Protokol Kesehatan, FGD ini juga digelar dengan virtual melalui aplikasi Zoom Meeting dan disiarkan secara streaming sehingga dapat dijangkau oleh khalayak luas secara langsung.

BACA JUGA  KH. An'im Fatahna Kembali Terpilih Sebagai Ketua NU Kota Tikep

Dalam sambutannya, Sultan Tidore Husain Alting Syah mengatakan, Negeri (Tidore) ini ikut andil menyatukan sepertiga wilayah ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui perjalanan panjang dan perjuangan para Sultan Tidore termasuk wilayah Papua.

“Papua pada saat itu bersatu dengan Tidore bahu membahu dalam hubungan persaudaraan. Papua lah dengan Tidore yang sama-sama karena atas nama kemanusiaan, mereka membangun peradaban bersama-sama. Dimulai dari Sultan Al Mansyur hingga Sultan Abidin Syah melalui perjanjian di Malino hingga ke Bali diberi tiga opsi namun menyatakan bahwa Tidore bersama Papua masuk di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelasnya.

Sultan juga menyebutkan, Sultan Abidin Syah merupakan Gubernur pertama Papua dan Soasio yang merupakan ibu kota Papua pada saat itu. Banyak bukti sejarah yang membuktikan bahwa Papua merupakan bagian dari Tidore. Tak hanya itu, Tidore juga memiliki putera-putera daerah yang berperan di Nasional maupun hingga ke luar Negeri, seperti Pangeran Nuku yang berhasil meluaskan wilayah hinggah ke Pasifik.

Sultan Abidin Syah yang berhasil menyatukan NKRI dengan menyatakan sikapnya bahwa Papua dan Tidore masuk dalam wilayah NKRI, juga ada Tuan Guru yang merupakan seorang tokoh di Cape Town yang terkenal dan sangat dihargai yang diakui juga oleh Nelson Mandela sebagai gurunya.

BACA JUGA  Banjir Di Tikep Jadi Mainan Bagi Anak-Anak

FGD ini juga menghadirkan anggota DPD RI lainnya yakni Ahmad Nawardi, Habib Ali Alwi, Memberob Y. Rumakiek, Stefanus B. A. N Liow, Arniza Nilawati, Hilda Manafe, Dr. Filep Wamafma dan Namto Roba, yang diikuti oleh peserta selain dari Perangkat Adat, Tokoh Adat dan Tokoh Masyarakat, serta Tokoh Agama, dengan peserta dari Akademisi, Mahasiswa dan pelajar

Perlu diketahui bahwa maksud terselenggaranya FGD ini adalah untuk menggali berbagai informasi dan data dari para narasumber yang kompeten dalam rangka menambah ilmu dan pengetahuan mengenai hubungan sejarah dan budaya Tidore-Papua, selain itu untuk menjaga serta melestarikan nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini terjalin antara masyarakat Tidore dan Papua juga sebagai kajian ilmu hukum ketatanegaraan dan hukum adat dalam menciptakan pluralism hukum di Indonesia. FGD ini juga bertujuan untuk memperluas cakrawala pengetahuan, memperkuat rasa persatuan, persaudaraan, cinta tanah air dan jiwa nasionalisme para peserta. (Red)

Musa Abubakar

Reporter: Musa Abubakar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here