Produksi Telur Ayam Di Halbar Tidak Mencukupi Kebutuhan Pasar

246

Sekretaris Dinas Pertanian Halbar, G. H Sanahu Didamping Lamaru (Foto: Riko CH)


HALBAR, CH- Produksi telur ayam di Kabupaten Halmahera Barat (Halbar) yang diproduksi oleh peternak lokal, tampaknya belum bisa memenuhi kebutuhan pasar. Jumlahnya masih sangat sedikit, ketimbang permintaan pasar.

Sekretaris Dinas Pertanian Halbar, G. H Sanahu mengatakan, persediaan telur ayam yang terbilang sedikit ini disebabkan karena jumlah peternak ayam petelur di Halbar masih sangat sedikit. Sehingga produksi telur hanya mencapai 10 persen atau 6 ribu butir per hari. Sementara kebutuhan masyarakat per hari di atas 90 persen atau 61 ribu butir.

“Karena yang ada sekarang baru satu tempat peternakanan di desa Goal, Kecamatan Sahu Timur yang produksinya per hari 6 ribu butir. Untuk penuhi kebutuhan masyarakat dibutuhkan 5 sampai 9 tempat peternakan,” kata G. H Sanahu, di ruang kerjanya, Rabu (24/3/2021).

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,
kata G. H Sanahu, para pengusaha terpaksa harus mendatangka telur ayam dari luar Halbar, seperti dari Manado maupun Surabaya.

Agar tidak lagi dipasok dari luar Halbar, dia menyarankan kepada warga untuk membuka usaha peternakan ayam petelur. Karena hasilnya sangat menjanjikan.

BACA JUGA  Inspektorat Halbar Kembali Temukan Penyalagunaan DD Rp. 200 Juta Sekian

“Bagi masyarakat yang belum ada uang tapi punya kemauan bangun usaha peternakan kan ada KUR (Kredit Usaha Rakyat) dari pemerintah, bisa di akses dan di manfaatkan sistem tersebut sebagai layanan pinjaman,” sarannya.

Dia juga berharap, adanya perhatian dari Propinsi Maluku Utara terhadap potensi yang ada. Harus adanya singkronisasi antara propinsi dengan kabupaten.

“Artinya apa yang harus propinsi lakukan dan apa yang kita daerah lakukan untuk sama-sama mendorong kedepan,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Lamaru selaku staf di bidang perternakan pertanian menuturkan, di 2020 jumlah produksi ayam petelur di Halbar 5 ribu butir per hari. Sementara di 2021 naik menjadi 6 ribu butir.

“Jadi hasil produksinya naik turun atau fluktuasi,” tutup Lamaru. (Red)

Riko Noho

Reporter: Riko Noho

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here