SPBUN PPI Goto Bebas Jual Pertalite Dan Pertamax ke Pengecer

362

Salah Satu Pengecer Yang Memuat BBM dari SPBUN PPI Goto Menggunakan Mobil Pic Up

TIDORE, CH – Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) di Kecamatan Tidore, Kota Tidore Kepulauan (Tikep), Provinsi Maluku Utara diketahui menjual BBM jenis Pertalite ke pengecer.

SPBUN yang terletak di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) di Kelurahan Goto
yang dikelola oleh Koperasi Arumabae kerap kali ditemukan menjual BBM jenis Pertalite yang merupakan subsidi dan Pertamax non subsidi ke para pengecer.

Ongen salah satu karyawan SPBUN PPI Goto saat di konfirmasi melalui via ponsel meminta agar wartawan media ini datang ke kantor untuk dijelaskan terkait BBM bersubsidi dan Nonsubsidi.

“Makanya ngana (wartawan) datang di kantor supaya torang (SPBUN) jelaskan, yang ada di torang itu dua jenis, subsidi dan nonsubsidi, nonsubsidi itu bebas torang mau jual kadara, kaatas mau kabawa bisa, jadi jang cuma keluhan keluhan masyarakat. Subsidi itu yang khusus untuk nelayan,” kata Ongen dengan nada kasar, saat dihubungi, Kamis (7/4/2022).

Sementara itu kepala UPT BP3D Wilayah IV DKP Provinsi Maluku Utara M.Tahsim Hajatuddin MSi saat di temui menjelaskan bahwa SPBUN bisa di jual kepada siapa saja.

“Ini dia punya nama SPBUN, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan, jadi itu bisa di jual di siapa saja karena ada umum dan juga nelayan,”jelasnya.

BACA JUGA  Pemkot Tikep Kembali Raih Penghargaan Dari Kemenkum-HAM

Tahsim juga mengungkapkan bahwa BBM jenis Pertalite dan pertamax merupakan BBM Nonsubsidi bisa dijual kepada siapa saja itu urusannya pihak pengelola SPBUN. Kata dia, tugas mereka hanya sebatas melihat dan mengawasi terkait berjalannya SPBUN tersebut.

“Disini (SPBUN) ada subsidi dan nonsubsidi , subsidi solar, sedangkan yang nonsubsidi itu ada pertalite ada pertamax. Jadi itu silahkan dong (pengelolah) mau jual di siapa saja itu urusannya pihak pengelola karena tidak ada ketentuan yang mengatur terkait nonsubsidi,” ungkapnya.

Tahsim juga menegaskan kepada pihak pengelola SPBUN PPI Goto agar lebih memprioritaskan para nelayan terutama pertalite, karena nelayan jarang sekali menggunakan pertamax karena harganya 12.500 di bandingkan dengan pertalite yang hanya 7.800.

“Tetapi saya selalu bilang ke dorang (pihak SPBUN) bahwa prioritaskan para nelayan untuk BBM bersubsidi biasanya ada rekomendasi yang dibuat oleh pejabat yang berwenang, dimana SPBUN itu berada ,Torang biasanya yang buat itu kepala dinas ataupun kepala dinas memberikan kewenangan BP3D kepala UPT untuk membuat, dan itu untuk melayani kapal nelayan dibawah 30 Gross Ton,” paparnya.

Dirinya juga menjelaskan prihal Dua pick up yang di layani oleh SPBUN PPI Goto merupakan milik nelayan dari dua kelurahan yakni Kelurahan Dokiri dan Kelurahan Gurabati.

“Sementara dilayani itu dua pick up masing masing ada yang satu ton ada yang satu koma lima ton, untuk nelayan yang ada di kelurahan Dokiri maupun yang ada di Gurabati,” sebutnya.

BACA JUGA  Kelurahan Rum Masih Butuh Perhatian BNPB Pusat

Sementara itu saat dipastikan apakah yang di angkut dua pick up tersebut merupakan BBM jenis pertalite dan lebih banyak pertamax. M.Tahsim kembali menegaskan bahwa keduanya merupakan BBM Nonsubsidi.

“Pertalite dan pertamax kan silahkan tidak disubsidi mau menjual ke siapa saja itu disilahkan karna yang disubsidi itu hanya solar ,dan untuk membeli solar itu yang membeli harus ada rekomendasi yang dikeluarkan oleh kami tapi untuk Pertalite maupun Pertamax itu tidak ada rekomendasi,” tegasnya.

Lanjutnya, ada pemberitahuan dari pengelola SPBUN bahwa untuk pembelian Pertalite harus melampirkan rekomendasi, akan tetapi dirinya menjelaskan bahwa belum mendapatkan edaran ataupun surat dari Pertamina.

Walaupun Pemerintah atau dari Pertamina tidak mengizinkan penjualan BBM kepada tingkat pengecer namun, M.Tahsim menjelaskan bahwa ini merupakan kesepakatan nelayan dan pengelola SPBUN untuk menujuk salah satu pengecer yang nantinya menjual kembali kepada nelayan.

“Ini adalah kesepakatan mereka, kami hanya sifatnya membantu karena jangkauan yang cukup jauh misalnya dari Rum kemudian Toloa, datang untuk membeli minyak disini (Goto), jangkauan cukup jauh, maka disitu disepakati meraka menujuk salah satu pengecer untuk melakukan pembelian dengan melampirkan kartu Nelayan,” jelasnya.

Musa Abubakar
Reporter: Musa Abubakar
Editor: Suhardi Koromo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here