Menuju Ekonomi Berkelanjutan, Bupati Paparkan Strategi Hilirisasi Kelapa‑Pala di Universitas Hein Namotemo

Bupati, Piet Hein Babua
HALUT, CH – Dalam menyambut Dies Natalis ke‑11 yang akan diperingati pada 24 November 2026, Universitas Hein Namotemo menggelar Diskusi Panel Akademik bertema “Potensi Lokal Menuju Ekonomi Berkelanjutan, Mempercepat Hilirisasi Kelapa dan Pala di Halut.”
Kegiatan berlangsung di Kampus Universitas Hein Namotemo, Desa Gamsungi, Kecamatan Tobelo, pada Jumat (9/10/2026), pukul 14.40 WIT.
Kegiatan dihadiri Bupati Halmahera Utara Piet Hein Babua para pimpinan OPD, Rektor Universitas Hein Namotemo Hendriyane Namotemo jajaran dosen, mahasiswa, panelis, dan tamu undangan.
Rektor Hendriyane Namotemo dalam sambutannya menyampaikan, bahwa Dies Natalis tahun ini menjadi tahun pertama dilaksanakan tanpa kehadiran pembina universitas yakni almarhum Hein Namotemo
Meski begitu, lembaga ini tetap dapat melanjutkan pengabdian berkat dukungan Pemerintah Daerah dan para pemangku kepentingan.
Rektor menegaskan bahwa topik diskusi panel memiliki relevansi strategis bagi pembangunan daerah. Ia menyatakan dukungan penuh perguruan tinggi terhadap upaya pengelolaan potensi sumber daya alam Halut secara berkelanjutan, sekaligus mengharapkan terbangun sinergi antara kampus, pemerintah, dan masyarakat untuk melibatkan generasi muda dalam pembangunan.
“Kami berharap forum ini menjadi ruang kolaborasi untuk menghasilkan gagasan yang bermanfaat mengoptimalkan kekayaan lokal demi kesejahteraan warga,” ujarnya.
Sebagai pembicara utama panel, Bupati Piet Hein Babua menjelaskan bahwa pembangunan ekonomi daerah tidak dapat lepas dari kekayaan sumber daya lokal yakni pertanian, perkebunan, perikanan‑kelautan, pariwisata, dan pertambangan.
Menurutnya, jika dikelola dengan baik, sektor‑sektor tersebut dapat membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat, termasuk melalui pengembangan pertambangan rakyat yang bertanggung jawab.
Dikatakannya, pembangunan ini perlu selaras dengan kebijakan nasional dalam agenda hilirisasi dan industrialisasi Asta Cita. Untuk Halmahera Utara, dua komoditas unggulan yang dijadikan prioritas adalah kelapa dan pala.
Selanjutnya, Bupati menguraikan latar belakang kebijakan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2025 tentang Hilirisasi Buah Kelapa. Sejarah harga kopra yang sering berfluktuasi menunjukkan bahwa petani kerap berada dalam posisi kurang menguntungkan jika hanya menjual bahan mentah.
Kebijakan pembatasan penjualan buah kelapa ke luar daerah bertujuan mendorong pengolahan di dalam wilayah, memperkuat industri lokal, menyerap lebih banyak bahan baku, dan menstabilkan harga yang diterima petani.
“Kita tidak boleh hanya melihat fluktuasi harga jangka pendek, melainkan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah kebijakan berjalan,” jelas Bupati.
Sesuai fakta, bahwa sebelum kebijakan diterapkan, harga kopra pernah berada di kisaran Rp 6.000‑7.000 per kilogram. Dari sisi ekonomi, kelapa adalah barang privat yang pergerakan harganya dipengaruhi pasar, namun pemerintah tetap berperan membuat regulasi untuk menjaga iklim usaha yang sehat dan melindungi kepentingan masyarakat.
Sekitar 80 persen pendapatan buruh pelabuhan Halut juga bergantung pada rantai kopra, sehingga keberlangsungan sektor ini berdampak luas pada pekerjaan masyarakat.
Halmahera Utara telah mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 11,05 persen, masuk dalam sepuluh daerah dengan pertumbuhan tertinggi di Indonesia.
Berdasarkan, Survei Bank Indonesia juga mencatat pola pertumbuhan yang relatif berimbang karena manfaat sumber daya dapat langsung dirasakan masyarakat.
Salah satu hambatan sebelumnya, bahwa hasil olahan kelapa dari Halut diekspor dengan pencatatan asal barang di Surabaya, sehingga belum tercatat sebagai kontribusi ekonomi daerah.
Kini Halmahera Utara telah mendapatkan Surat Keterangan Asal (SKA) pada Mei 2026, agar pencatatan asal barang ekspor lebih jelas dan manfaat devisa dapat lebih optimal bagi pembangunan daerah ke depannya.
Untuk komoditas pala, pemerintah menjalin kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam pemilihan bibit unggul, teknik budidaya, dan pengolahan pascapanen. Sampel buah pala Halut telah dikirim untuk diuji di UGM sebagai dasar peningkatan mutu dan daya saing produk.
Fenomena El Niño telah menyebabkan kerusakan banyak tanaman petani. Pemerintah merencanakan pemberian bantuan bibit serta program pemulihan pertanian pada tahun berikutnya. Halut memiliki sekitar enam juta pohon kelapa yang menjadi aset besar untuk dikembangkan.
Dalam perspektif jangka panjang, pembangunan diarahkan ke konsep ekonomi biru‑hijau pengelolaan perikanan‑kelautan (ekonomi biru) dan perkebunan‑hutan (ekonomi hijau) yang meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Ini menjadi kerangka strategis untuk mengembangkan sektor unggulan daerah.
Dari pemaparan Bupati, disimpulkan bahwa keberhasilan hilirisasi kelapa‑pala, tata kelola ekspor, dan pemulihan pasca‑El Niño memerlukan sinergi pemerintah pusat‑daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.
Tujuan akhirnya adalah membangun ketahanan ekonomi daerah, menambah nilai komoditas, membuka lapangan kerja, dan mewujudkan kesejahteraan berkelanjutan bagi seluruh warga Halmahera Utara.
Diskusi panel ini menjadi bukti peran penting perguruan tinggi sebagai mitra pemikir yang memberikan landasan ilmu bagi kebijakan pembangunan daerah. (Eby)







