Hadapi Puncak El Nino dan 33 Titik Api, Halut Minta Dukungan Provinsi

Sekda Halut saat zoom meeting
HALUT, CH – Menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta kekeringan yang kian menguat, Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara mengikuti rapat koordinasi tingkat provinsi yang dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, secara daring (Zoom Meeting), Rabu 26 Agustus 2026 di Ruang Rapat Sekda Halut, Lantai II Kantor Bupati, Desa Gamsungi, Tobelo.
Bersama Sekretaris Daerah Halmahera Utara E.J. Papilaya,rapat tersebut dihadiri oleh unsur Kodim 1508/Tobelo, Polres Halut, Basarnas, Asisten dan Staf Ahli Bupati, serta pejabat terkait lainnya.
Dalam paparannya, Sekda Papilaya melaporkan komitmen penuh Pemda Halut. Kata Sekda, Bupati telah memerintahkan pembentukan Satgas Desa yang diketuai Kepala Desa dengan dukungan TNI‑Polri untuk memantau api dan ketersediaan air.
Meski sudah dibagi dalam 6 zona pengawasan dan dikerahkan personel ke lapangan, kenyataan di lapangan menghadirkan tantangan berat.
“Sampai saat ini tercatat 33 kejadian Karhutla. Namun kendala utama adalah medan yang sulit, terutama titik api di kawasan pegunungan wilayah Galela belum tertangani secara maksimal,” ungkapnya.
Menyadari keterbatasan sarana, Pemda telah berkoordinasi dengan pihak perusahaan dan pengelola Bandara udara, guna memperkuat dukungan. Namun demikian, dukungan Provinsi sangat diharapkan, termasuk kemungkinan penggunaan helikopter untuk menjangkau wilayah terjal yang tak terjangkau darat.
Dalam rapat tersebut, Kepala BMKG Provinsi memperingatkan bahwa saat ini Maluku Utara berada di puncak musim kemarau yang dipengaruhi El Nino cukup kuat, bahkan lebih ekstrem dibanding tahun sebelumnya.
Beberapa wilayah seperti Halmahera Utara, Morotai, Batang Dua, dan Tidore masuk kategori kekeringan ekstrem. Cuaca kering diprediksi bertahan hingga September–Oktober, hujan baru membaik November, dan pengaruh El Niño diperkirakan masih ada hingga awal 2027.
Berdasarkan data bahwa, di seluruh provinsi telah terjadi sekitar 91 kejadian Karhutla dengan jumlah terbanyak berada di wilayah Halmahera Utara.
Pihak Polda Malut menyatakan telah menyiapkan lebih dari 3.700 personel dan kendaraan pendukung, sedangkan Korem 152/Baabullah siap dengan 1.820 personel serta arahan agar tetap bergerak kreatif meski kendaraan tak bisa lewat.
Dukungan juga datang dari Basarnas Provinsi dan BWS yang menyediakan peralatan serta dua unit mobil tangki air bagi kebutuhan Halmahera Utara.
Kabinda turut mengonfirmasi peningkatan kejadian yang sebagian besar dipicu aktivitas manusia dan sedang menyiapkan sistem aplikasi guna memudahkan pemantauan berbasis data.
Wakil Gubernur Sarbin Sehe menegaskan bahwa tantangan bukan hanya api, melainkan kekeringan dan krisis air bersih. Oleh karenanya diputuskan untuk membentuk Satgas Penanganan Karhutla dan Kekeringan Provinsi di bawah pimpinan Sekretaris Daerah Provinsi.
Selanjutnya, membentuk grup komunikasi terpadu. BPBD Provinsi menyatukan seluruh data kabupaten/kota. Setiap daerah segera menyusun SK Siaga Darurat, naik ke Tanggap Darurat jika kapasitas daerah terlewati. Dan menyusun proposal rinci kebutuhan sarana guna diperjuangkan ke pusat. Serta Mengedarkan surat edaran pelaksanaan Shalat Istisqa/doa bersama di rumah ibadah memohon pertolongan Allah.
“Masyarakat butuh kehadiran negara. Kerja ekstra, utamakan keselamatan jiwa, dan bergerak cepat merespons kekeringan maupun api,” tegas Wakil Gubernur.
Rapat berlangsung tertib dari pukul 13.55 hingga 16.25 WIT. Halmahera Utara bersama wilayah lain berkomitmen menyusun rencana kebutuhan serta memperkuat patroli dan sosialisasi agar musim kemarau ekstrem ini tidak menimbulkan kerusakan yang lebih luas.(Eby)







