Penguatan Perlindungan Anak di Tidore, Ketua TP PKK Soroti Pola Asuh dan Bahaya Pornografi

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Tidore Kepulauan, Hj. Rahmawati Muhammad Sinen
TIDORE,CH – Ketua Tim Penggerak PKK Kota Tidore Kepulauan, Hj. Rahmawati Muhammad Sinen yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Kota Tidore, menjadi narasumber dalam kegiatan Koordinasi dan Sinkronisasi Penguatan Jejaring Antar Lembaga Penyedia Layanan Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus tingkat kabupaten/kota.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bidang Perlindungan Anak Dinas P2KBP3A Kota Tidore Kepulauan ini berlangsung di Desa Maitara Tengah, Rabu (22/4/2026), dan turut menghadirkan Psikolog dari Perwakilan Kementerian Sosial wilayah Maluku Utara, Siti Ningrum, S.Psi., M.Psi sebagai narasumber.
Kegiatan ini digelar sebagai respons atas meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak serta maraknya pornografi yang dinilai menjadi ancaman serius bagi masa depan generasi muda. Permasalahan tersebut dipengaruhi oleh pola asuh yang belum optimal, baik dari lingkungan keluarga maupun sosial.
Dalam pemaparannya, Hj. Rahmawati Muhammad Sinen mengapresiasi antusiasme para ibu dari empat desa di Pulau Maitara yang hadir mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, partisipasi aktif para ibu menjadi langkah penting dalam upaya perlindungan anak sejak dini.
“Melalui kegiatan ini, ibu-ibu dapat memahami pola asuh sesuai fase usia anak, sehingga mampu mencegah anak terjerumus dalam hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Puspaga memiliki peran strategis dalam mencegah permasalahan keluarga sejak dini, sekaligus memberikan pendampingan saat masalah terjadi. Selain itu, Puspaga juga bertujuan meningkatkan kualitas hidup keluarga dan kemampuan orang tua dalam mengasuh anak guna mewujudkan keluarga yang harmonis.
Rahmawati juga memberikan apresiasi kepada masyarakat Pulau Maitara yang hingga kini dinilai berhasil menjaga wilayahnya dari kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Meski demikian, ia mengingatkan agar kondisi tersebut terus dipertahankan, mengingat Pulau Maitara telah dicanangkan sebagai pulau bebas pornografi anak.
Ia juga mendorong pembentukan ruang-ruang aman bagi perempuan, seperti wadah “pondok curhat”, sebagai sarana penyelesaian masalah secara bersama.
Sementara itu, Psikolog Siti Ningrum menekankan pentingnya ketahanan keluarga dalam membentuk karakter anak. Ia menyebut parenting sebagai proses kolaborasi antara orang tua dan anak dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak.
Menurutnya, ada sejumlah langkah pencegahan yang perlu dipahami bersama. Anak harus mengenali hak atas tubuhnya, berani berkata tidak, serta melaporkan hal mencurigakan. Guru diharapkan menjadi ruang aman bagi siswa untuk berdiskusi, sementara orang tua perlu membangun komunikasi terbuka dan memberikan dukungan penuh kepada anak.
“Peran keluarga sangat fundamental, namun tantangan zaman dan pola asuh menjadi penentu utama masa depan anak,” pungkasnya.







