Bertahan di Laut Natuna dan Menghadapi Konflik Laut China Selatan

 

NUSKI A. SABAN, S.P.W.K
Wartwan Cermin Halmahera

CHINA bepergian terlalu jauh melintasi laut selatannya, egoisme kekuasaan nahkoda yang berlayar menyeberang laut disana, lupa akan siapa tuan pemilik laut yang berlayar di tepi pantai. Teringat sebuah pidato yang dikutip dari bapak proklamator Presiden pertama Republik Indonesia “Kedaulatan dari bangsa yang paling baru atau bangsa yang paling kecil sama berharganya, sama tidak dapat dilanggarnya, seperti kedaulatan bangsa yang paling besar atau bangsa yang paling tua. Dan selain daripada itu sesuatu pelanggaran terhadap kedaulatan sesuatu bangsa merupakan suatu ancaman  potensiil terhadap kedaulatan semua bangsa”. (Ir, Soekarno, 1960, h. 307). Setiap bangsa memiliki kedaulatan yang menjadi leluhurnya akan melekat sebagai jati dirinya, jika suatu negara mengancam kedaulatan Negara lain, maka negara yang terancam kedaulatannya baik dari sisi ruang darat, ruang laut dan ruang udara memiliki rasa untuk mempertahankan, melindungi bahkan menyerang dengan kondisi dan situasi kemampuan militer negara.

Ancaman kedaulatan dibeberapa Negara menjadi isu Global saat ini, ketegangan dan peperangan justru akibat negara saling klaim wilayah, perebutan pengolahan sumber daya alam, negara memperluas wilayahnya, dan berbagai macam faktor lain yang mengakibatkan langkah tegas berupa invasi negara. Rusia dengan terbuka pada dunia melakukan invasi ke negara Ukraina pada tanggal 22 Februari 2022. Operasi militer akibat persoalan Geopolitik  yang mengancam kedaulatan negara Rusia disebelah barat daya atas bergabungnya negara tetangga Ukraina ke NATO. Perang Palestina-Israel teramat panjang di Timur Tengah tentang negara mana yang harus memiliki dan mempertahan kedudukan kedaulatan.

Tak hanya itu perjuangan Palestina mempertahankan kedaulatan ditanahnya sendiri walaupun kecenderungan peperangan menjadi semakin besar dan sengit, Palestina mendapatkan kekuatan baru berupa jalan keluar dari ketagangan perang yang berlarut itu. Palestina akhirnya di dukung oleh 143 Negara dari 177 Negara yang mengikuti sidang pleno PBB pada tahun 2024. Dengan demikian Palestina mendapatkan pengakuan kedaulatan yang penuh sebagai negara yang merdeka. Banyak negara-negara yang berhasil menyelesaikan permasalahan konflik di PBB untuk perdamaian, namun disisi lain, negara banyak memulai mengatasi dengan perang untuk menunjukan pihak mana yang memiliki kekusaan atau kekuatan lebih besar terlebih dahulu.

Dalam menghadapi ancaman kedaulatan, Indonesia telah banyak belajar pengalaman dari konflik dalam Negeri. Timur Leste keluar dari negara Indonesia membentuk negara baru melalui referendum kemerdekaan pada 30 Agustus 1999. Lepas dari pangkuan Ibu Pertiwi, Timur Leste akhirnya menjadi negara yang berdaulat. Kontroversi Papua yang menginginkan kedaulatannya sendiri, diwarnai dengan bendera Bintang Kejora, hingga terdapat Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), membuat situasi ancaman dan korban berjatuhan di pihak KKB maupun pihak Militer yang bertugas demi bangsa Indonesia di tanah Papua.

Fakta yang dialami oleh Negara Indonesia dan Negara lainnya, menunjukan bahwa perjuangan kedaualatan pada suatu wilayah banyak ditempuh dengan perang. Namun perang melintasi suatau negara hanya membawa kehancuran, perang dalam negeri sangat menyakitkan, perang tidak menyelesaikan masalah, perang hanya penerus generasi. Lantas bagaimana dengan dinamika entitas kadaulatan di laut China Selatan yang begitu kontroversi. Ancaman konflik di laut China Selatan terhadap kedaualatan Indonesia harus dipikirkan dengan baik sabagai masyarakat dan negara yang berdaulat.

Secara sapasial wilayah yang diperebutkan oleh negara atau diklaim sepihak bukan hanya wilayah daratan, tetapi pulau dan lautan serta sumber daya alam menjadi pertaruhan kekuatan kepentingan geopolitik. Konflik di laut China Selatan turut menuai ketegangan antar Negara China dan Indonesia. Laut Natuna Utara dalam Sembilan Garis Putus-Putus (Nine Dash Line) yang di klaim sepihak China sebesar 83.000 Km2 atau 30% dari luas laut Indonesia di Natuna mengalami tumpang tindih oleh kawasan Zona Eknomi Ekslusif (ZEE) Republik Indonesia. Klaim China atas kedaulatan di Laut Natuna merupakan fakta ancaman kedaulatan yang nyata dialami bangsa Indonesia. Karena tidak sesuai dengan kesepakatan Konvensi Hukum Laut Internasional PBB 1982 atau UNCLOS 1982 yaitu Zona Eknomi Ekslusif (ZEE) Republik Indonesia.

Pasang surut kedaulatan di perairan Natuna Utara menjadi perhatian kita bersama sebagai masyarakat yang merkdeka dan berdaulat atas wilayah Natuna Utara dan seluruh Sumber Daya Alam yang terkandung didalamnya. Berdasarkan data inforgrafis publik Pusat Kajian Anggaran, Sekretariat Jendral DPR RI. Potensi Laut Natuna Utara diantaranya menyimpan potensi cadangan gas alam dengan volume sebesar 222 triliun kaki kubit disalah satu ladang gas alam blok Natuna D-Alpha, cadangan Gas alam di kepulauan ini digadang yang paling terbebesar di Asi Pasifik. Disisi lain, potensi perikanan ikan laut pada tahun 2011 mencapai sebesar 504.212,85 ton per tahun.

Konflik laut China Selatan nyata mengancam wilayah kedaulatan Republik Indonesia, yaitu perairan Natuna Utara yang dilintasi oleh Nine Dash Line pada peta standar China itu. Ketegangan konflik di laut China Selatan melalui unggahan video dibeberapa media menjadi perhatian public, dimana saat itu sejumlah kapal China memasuki perairan Natuna Utara yang melakukan tindakan illegal fishing, keberadaan justru dikawal langsung oleh kapal Coast Guard milik China, peristiwa ini terjadi pada 24 Desember 2019 melalui patroli oleh Badan Keamana Laut Republik Indonesia (Bakamala RI), menunjukan kapal Coast Guard milik Tiongkok di perairan Natuna Utara bersikap miliki kedaulatan. Serupa insiden memanas kedua kapal penjaga pantai Coast Guard Tiongkok-Filipina adu tabrakan pada 05 Maret 2024 di laut China Selatan yang disengketakan. China menunjukan sebagai Negara yang memiliki kekuatan terhadap bangsa Indonesia dan terhadap negara-negara di Asia Tenggara yang berhadapan dengan laut China Selatan. Sikap China  (Republik Rakyat Tiongkok) di laut China Selatan nyata berambisi untuk melakukan pertahan keamanan mulai dari sisi terdekat sampai terjauh di laut China Selatan.

Tiongkok lebih optimis maju melihat peluang geopolitik strategis di Asia Tenggara, salah satunya adalah laut Natuna Utara, klaim terjauh dari Tiongkok di laut China Selatan itu pun dilakukan. Egoisme kekusaan Tiongkok di laut China Selatan optimis dengan sentiment global. China optimis menyaingi Amerika Serikat di benua Asia Tenggara, Rusia menginvasi negara Ukraina karena NATO di benua Eropa, kebangkitan motiv Rusia dan China mencoba kembali membangun kekuatan sebagai kedua negara yang berambisi melakukan revolusi global dibawah pengaruh mereka sebagai negara komunis. Disi lain, justru berbalik dengan Amerika Serikat yang menginginkan demokrasi sebagai jalan perdamaian di dunia.

China merupakan salah satu Negara dengan kekuatan militer yang mempuni. Memiliki pengaruh ekonomi global yang didukung oleh tingkat ekspor, serta memiliki berbagai kepentingan dengan sekutu untuk menjadi negara kuat. Walaupun demikian Tiongkok dengan kemampuan yang dimiliki untuk mempengaruhi kedaulatan di laut China Selatan, atas klaimnya yang kontroversi. Akan tetapi, di sisi lain, China memiliki pemikiran yang berbeda tentang bagaimana cara mereka berperan di dunia internasional. Ancaman kedaulatan di laut China Selatan tidak hanya dialami oleh Indonesia. Akan tetapi, justru negara-negara ASEAN lainnya yang berhadapan dengan laut China Selatan, Vietnam, Thailand, Philippines, Brunei, Malaysia, Myanmar, Cambodia, Laos, Singapore, harus bersatu menjaga kedaulatan demi kepentingan ASEAN.

Kondisi ini menjadi masalah internasional apabila dibiarkan berlarut-larut, ataukah mungkin saja konsep kedaulatan sudah melemah antar negara, sehingga badan supransional seperti PBB dan NATO dapat melakukan intervensi. China yang begitu jauh dengan daratan negaranya mampu mengklaim seluruh bagian laut China Selatan, kemudian membangun pulau-pulau buatan di laut China Selatan. Berdasarkan dari informasi yang dihimpun dari media, Tiongkok berencana membangun reaktor nuklir terapung untuk pertahan militer. Dari sini cukup sederhana, bahwa China membangun untuk kekuatan di masa depan, sehingga tetap bertahan klaim Tiongkok terhadap seluruh laut China Selatan.

Negara-negara yang berhadapan dengan laut China Selatan secara geografis memiliki kekuatan diplomasi, melalui wadah sebagai negara ASEAN yang memiliki kepentingan yang besar secara ekonomi, budaya, politik  dan menjalin perdamaian. Komunis Vietnam dan Amerika Serikat memiliki kepentingan yang sama dalam menentang klaim China terhadap hampir seluruh bagian Laut China Selatan. Negara-negara ASEAN dalam mengejar perwujudan kepentingan nasional di laut China Selatan, musuh dini hari harus menjadi sukutu kedepan untuk menentang Tiongkok di Laut China Selatan.

Sementara China adalah pihak asing yang melihat peluang geopolitik di Asia Tenggara. Jika demikian, kedepannya konflik ini mengalami ketegangan yang lebih serius, di laut Natuna Utara maka Tiongkok membawa perang di laut China Selatan. Sistuasi ini membuat sentiment geopolitik negara ASEAN berubah untuk kepentingan nasional tidak menutup kemungkinan bersatu untuk melawan Tiongkok di laut China Selatan. Tiongkok harus berpikir egoismenya terhadap klaim kekuasaan sepenuhnya di laut China Selatan dapat mengancam kedaulatan yang berlebihan. Dinamika politik global yang tidak menentu kepastian, membuat kemungkinan China menjalin hubungan internasional atau memicu perang di laut.

Menghadapai dinamika di laut China Selatan, jika didominasi terus menerus oleh pihak Tiongkok selain konflik ketegangan, justru akan mewarnai sentiment konflik sosial kepada pihak Tiongkok. Disisi lain, rasisme justru sudah terjadi sejak awal terhadap pihak China atau keturunan Tiongkok di Indonesia, ini membuat sekat dinamika sosial yang tajam kepada keturunan Tiongkok. Oleh karena itu dominasi Tiongkok di laut China Selatan untuk mengusai sepenuh atas klaim sepihak yang mengancam kedaulatan negara, memicu efek berganda pada rasisme orang-orang China.

Sama halnya negara-negara lain yang terancam kedaulatannya di laut China Selatan, justru membuat masyarakat menunjukan rasisme yang sama kepada China sebagai negara Komunis, yang berbeda ideologi di Asia Tenggara. Indonesia memiliki kepentingan nasional terhadap laut Natuna Utara, sehingga masyarakat Indonesia harus melakukan tekad yang kuat, wilayah peraiaran Natuna Utara tidak boleh terlepas dipangkuan Ibu Pertiwi, Laut Natuna menjadi harga mati bagi Bangsa Indonesia kendati pun demikian hidup di laut yang kacau dan berbahaya nanti, demi generasi bangsa Indoensia yang sudah dewasa ini. Melihat Tiongkok yang memanfaatkan peran strategis di laut China Selatan terhadap Laut Natuna, Indonesia sebagai negara maritim harus menunjukan kepastian pertahan, tak pandang buluh kepada pihak asing manapun yang mengancam kedaulatan demi pertahanan Keamanan Nasional.

Di kutip kompas.com kemampuan Angkatan Laut (AL) Indonesia berada diperingkat keempat terkuat di dunia, setelah Amerika Serikat, Rusia, dan China yang dirilis pada tahun 2023 oleh World Directory of Modern Military Warships (WDMMW). Indonesia selalu berusaha untuk memperkuat Angkatan Laut (AL) melalui peralatan teknologi moderen untuk upaya pertahan keamanan lebih kuat. Melalui Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Pemerintah Indonesia bertekad kuat dalam pengadaan alutsista dalam mendukung pertahanan kedaulatan wilayah Republik Indonesia sisi laut, udara dan darat. Pengadaan diantaranya alutsista kapal selam Scorpene, pesawat tempur Rafael, pesawat Hercules serta pengadaan alutsista lainnya guna menjangkau dan menjaga pertahan maritim Indonesia.

Ancaman kedaulatan di laut China Selatan semestinya Indonesia optimis dengan memperkuat pertahan keamana militer untuk melawan ancaman kedaulatan yang lebih serius, serta bilateral antar negara dengan pendekatan dukungan militer. Indonesia dengan tegas harus melawan situasi ancaman yang berulang kemudian hari nanti. Dalam situasi politik global yang berubah ubah sewaktu-waktu, Indonesia harus berdiri menjadi Negara kuat, bangsa yang tidak boleh di injak-injak harga dirinya, bangsa yang besar ini telah digenerasi oleh pejuang-pejuang melalui tumpah darah melawan penjajahan di Nusantara. Begitupun juga dengan laut Natuna Utara yang di klaim China adalah tantangan besar, untuk itu salah satu menyelesaikan masalah tersebut dengan cara melawan dengan harga mati untuk mengejar perwujudan kepentingan kedaulatan nasional NKRI.

Show More
Back to top button