Energi Sentuh Pesisir, Denyut Ekonomi di Tengah Laut

Sumber : Foto Drone, Permukiman Desa Laluin, 7/16/2024
Jurnalis
NUSKI A. SABAN, S.PWK
SUARA langkah kaki tua itu berderak di atas papan rumah panggung, menandai awal hari di Desa Laluin. Yusuf di panggil akrab om Abang, ia nelayan Bajo berusia 64 tahun, mengangkat satu per satu perkakasnya menuju perahu ketinting yang terikat di dermaga kayu. Laut adalah ruang hidupnya, sekaligus ujian paling setia.
Setiap hembusan angin kencang, gelombang besar, dan terik matahari yang membakar kulit adalah bagian dari perjalanan panjang seorang kepala keluarga yang menggantungkan hidup di tengah samudra. Bagi Yusuf dan para nelayan Bajo, laut bukan sekadar tempat mencari ikan, tetapi juga tempat menambatkan harapan, menantang maut demi nafkah kehidupan di pesisir Halmahera Selatan.
Yusuf, bercerita nasib hidup sebelum listrik menjalar kedesanya, ia merupakan nelayan tua yang telah melalui berbagai kehidupan dari zaman gelap gulita tanpa listrik dipelosok negeri itu. Berburuh di malam, lautan hanya gelap dan sunyi yang ditanggung oleh nelayan, namun sekucup harapan ditunggu, hasil ikan adalah denyut ekonomi mereka.
Semenjak usia 13 tahun, Yusuf mengenal berburuh ikan dari orang tua dan keluarga lainnya, ia adalah satu diantaranya pribumi Suku Bajo di Desa Laluin dengan nasib sama, mewariskan pengalaman orang tua sebagai nelayan.
“So iko orang tua di laut dari kacil, bajaring, mangael (mancing), tembak ikan (menombak)” cerita pak Yusuf.
Yusuf selalu berburu di Pulau Sapang, Lelei Kecamatan Kayoa. Mereka umumnya pergi bergelombolan di pulau terpencil dan terpisah itu, jadi pilihan karena hasil ikan sangat melimpah, terkadang bertahan sampai sebulan bahkan lebih. Sebagai nelayan di Pulau Sapang, hasil tangkapan utamanya diolah menjadi ikan asin. Satu-satunya cara agar ikan tidak busuk, serta memiliki nilai jual. Para nelayan di Pulau Sapang sering kedatangan pembeli yang melakukan pelayaran antar pulau. Yusuf, disiang hari menyiapkan dan memperbaiki peralatan seusai berburuh ikan di malam hari, jaring yang sobek terbentur karang dikedalaman mulai dijahit kembali, malam seperti itu, untuk mendapatkan terang ia menggunakan obor sebagai cahaya kecil untuk melihat sedikit barang didalam perahu.
Yusuf, bertahun-tahun bergelut sebagai nelayan sangat bergantung dengan kondisi alam, obor sebagai cahaya, dari dayung dan layar sebagai pendorong perahu, serta matahari untuk menjemur ikan. Ikan asin sebagai pendapatan ekonomi memiliki hambatan-hambatan yang cukup tajam. Yusuf, membutuhkan energi sinar matahari yang baik dalam menjemur ikan. Namun, jika kondisi cuaca mendung berpengaruh kualitas ikan asin yang di jemur berdampak lamanya penjualan. Selama sebulan di pulau, rata-rata produksi ikan asin sebanyak 30-40 kilogram, ikan asing ini kemudian dibawah pulang untuk dijual, dengan harga pasaran saat itu Rp. 5.000 per kilogram.
Pengalaman Yusuf sebagai nelayan tak selalu tentang laut dan hasil tangkapan. Suatu ketika, ia membawa keluarganya menetap di Pulau Sapang, anak satu dan istri yang sedang mengandung itu membantunya selama di pualau Sapang. Karena cukup lama aktivitas nelayan di pulau Sapang, istri Yusuf akhirnya melahirkan dengan bayi yang tidak bisa diselamtkan (meninggal dunia) dalam kondisi sangat terbatas tanpa penangan medis, bayi yang baru saja dilahirkan, diantara pulau dan laut itu, Yusuf hanya meratap nasib, pasrah dengan keadaan yang sunyi, menguburkan bayinya ditepi pantai pulau Sapang. “Dikubur di pulau sapang, ingin minta bantuan di desa lelei, itu yang paling dekat tapi tidak sempat lagi,” cerita Yusuf dengan penyesalan.
Semenjak itu, iya mengenal pulau sapang bukan hanya tentang sunyi, melainkan tempat hidup mencari nafkah, menopang ekonomi keluarga yang sedekat dengan urat nadinya.
Pada tahun 2012, energi listrik menyentuh desa pesisir, melalui PLN Kecamatan Kayoa, menancap tiang di laut dan kabel di udara berhasil menghubungi antar pulau, mengubah wajah baru dengan mendorong berbagai kegiatan di desa Laluin Ibukota Kecamtan Kayoa Selatan. Kini perkembangan desa pesisir bukan lagi terbelakang oleh gelap, melainkan pelosok negeri yang terjamah oleh cahaya listrik. Begitupun juga yusuf di desa laluin, dengan adanya listrik telah membuka peluang dan mengubah nasib serta cara nelayan tradisional.
“listrik so masuk jadi ikan garam (ikan asing) so tara bikin (suda tidak dibuat), lebih capat jual ikan es,” ungkap Yusuf merasakan pengaruh listrik yang masuk didesanya.
Semenjak energi listrik masuk, Yusuf telah menggunakan peralatan yang moderen saat melaut ; obor diganti dengan senter charger (senter isi ulang) sebagai penerang di laut malam, dan penggunaan es batu yang berperan penting menjaga kualiats ikan tetap segar. Es batu kemudian menjadi bawahan para nelayan yang di kemas begitu rapat kedalam cool box (kotak pendingin) lalu ikut berlayar menumpang jauh ditengah laut, yang memberi ikan awet hingga sampai kepasaran. Bagi nelayan, es bukan hanya tentang air beku oleh fleezer, melainkan barang penentu harga kualitas ikan dipasar, penjamin ketahanan rezeki, dan penopang nasib ditengah laut. Perburuan nelayan tanpa membawa es, ikan tidak awet lama. Dan tanpa listrik yang stabil di kampung, mesin pembeku es tidak bisa produksi.
Dengan hadirnya energi listrik, membuka peluang usaha yang berdampak penting keberadaan nelayan. Husnia, ibu rumah tangga berusia 47 tahun, merupakan pelaku usaha es batu yang selama ini telah memnuhi kebutuhan para nelayan dan pelaku usaha pengupul ikan. Usaha es batu baru di mulai semenjak PLN masuk di kampung, kami menjual per satu es batu dengan harga Rp. 1000, freezer ini dapat menampung 60 potongan es batu.
“Dari nelayan yang sering membeli es batu, kalau pengepul usaha ikan lebih banyak lagi membeli es, hampir setiap kali kebutuhan isi lemari es habis dibeli,” jelasnya sambil mengisi air ke dalam kantong.
Yusuf, lelaki 64 tahun itu kini tak lagi harus menghabiskan waktu sebulan di laut seperti dulu. Sejak listrik masuk ke desanya, ritme hidup para nelayan berubah. Yusuf kini bisa melaut pagi hari dan kembali sore maupun sebaliknya, membawa hasil tangkapan yang tetap segar berkat es batu dari rumah produksi di kampungnya sendiri.
“Sekarang ikan so tara cepat busuk. Kita punya es batu, tinggal beli saja,” ujarnya sambil menyiapkan jerigen bahan bakar.
Setiap kali turun melaut, Yusuf mengeluarkan sekitar Rp50.000 untuk membeli BBM dan es batu. Dari biaya itu, ia bisa membawa pulang 7 hingga 10 kilogram ikan segar setiap hari. Dengan harga jual rata-rata Rp30.000 per kilogram, penghasilannya bisa mencapai Rp300.000 sehari, angka yang dulunya hanya bisa didapat setelah berbulan-bulan di pulau Sapang.
Kehadiran listrik bukan hanya menerangi rumah-rumah di atas laut, tapi juga menyalakan denyut ekonomi yang saling bergantung di masyarakat pesisir. Aktivitas nelayan kini terhubung erat dengan usaha es batu dan pengupul ikan di kampung. Panyol, 42 tahun, salah satu dari tiga pengupul ikan di desa itu, mengaku geliat penjualan ikan meningkat tajam dalam dua tahun terakhir.
“Sekarang rata-rata tiap minggu saya kirim 80 kilogram ikan ke Kota Ternate,” kata Panyol sambil menimbang ikan segar hasil tangkapan nelayan.
“Kalau dihitung, satu bulan bisa 320 kilogram. Tiga pengumpul di desa ini totalnya bisa sampai 10 ton dalam setahun,” ungkapnya.
Angka itu menunjukkan satu hal: kehidupan ekonomi pesisir kini tak lagi stagnan. Ada aliran manfaat yang berputar, nelayan menjual ikan ke pengumpul, pengumpul mengirim ke kota, dan pelaku usaha es batu menjaga kesegaran ikan agar tetap bernilai jual tinggi. Semua rantai ekonomi ini terjalin karena satu hal sederhana: PLN.
Dulu, sebelum listrik menjangkau desa, es batu adalah barang mahal dan sulit diperoleh. Nelayan terpaksa menjual ikan dengan harga rendah karena cepat rusak. Kini, mereka punya pilihan menjaga kualitas, menentukan harga, dan menikmati hasil jerih payah dengan lebih layak. Bagi Yusuf, perubahan ini bukan sekadar soal uang, tapi tentang waktu dan kehidupan. Ia kini bisa makan malam bersama keluarga, menemani anak-anaknya belajar di bawah cahaya lampu, dan tetap menjadi nelayan yang tangguh di laut. Kehidupan yang semestinya iya bersama anak yang hilang selamanya dalam dayung terakhirnya di pulau Sapang, lautan membuatnya memikirkan hal-hal ini. Di gubuk kecil pulau Sapang ber-alas sisa-sisa kayu menjadi saksi bahwa iya pernah meningalkan jejak kuburan.
Dari pelosok negeri Desa Laluin, kisah perubahan itu nyata terasa. Dahulu identik dengan ketimpangan pembangunan, kini listrik menghadirkan harapan baru di tengah keterbatasan ekonomi nelayan. Sentuhan energi dari bibir pesisir bukan sekadar menyalakan lampu, tetapi juga membuka akses menuju pelayanan kesehatan, pendidikan, keuangan, dan komunikasi. Di balik cahaya itu, kehidupan nelayan berdenyut lebih kuat, menandai kebangkitan ekonomi pesisir yang tumbuh dari energi listrik, yang berdampak pada semangat nelayan di tengah laut. (#)







