Dianggap Berbahaya Dari Covid 19, Warga Tolak Kehadiran Bajaj Di Tikep

531
cerminhalmahera

Aksi Para Pengendara Bentor  Menolak  Kehadiran Bajaj (Foto: Musa CH)


TIDORE – CH, Para pengemudi bentor di Kecamatan Tidore Utara Kota Kota Tidore Kepulaun (Tikep) secara tegas melakukan penolakan terhadap pengadaan kendaraan Bajaj oleh Kepala Unit Pelaksana Tehnis (UPT) Pelabuhan Rum, Nuramala Ismail. Penolakan ini dilakukan karena dianggap bisa membahayakan penghasilan para pengemudi bentor.

Aksi penolakan dengan cara  memasang spanduk serta selebaran dengan isi ajakan penolakan yang berlangsung di areal Pelabuhan Rum, Rabu (8/4/2020) ini berlangsung, setelah para pengemudi bentor mengetahui Nurmala Ismail akan membeli 10 unit Bajaj untuk mengangkut penumpang di areal Pelabuhan Rum dan sekitarnya.

Para pengemudi bentor ini mengaku sudah mendatangi Nurmala Ismail pada, Selasa (7/4/2020) kemarin dengan tujuan meminta Nurmala Ismail untuk mengurungkan niatnya agar tidak membeli atau mendatangkan kendaraan Bajaj di Tikep. Namun sayangnya, jawaban dari Nurmala Ismail dianggap sangat mengecewakan.

“Saat kami melakukan tatap muka, ibu Nurmala Ismail dengan angkuhnya mengatakan biar ngoni (pengemudi bentor, red) tolak lagi, satu dua minggu ini 10 unit bajaj akan datang. Ini menunjukkan bahwa ibu Nurmala seakan akan tidak ambil pusing dengan keluhan kami malah menjunjung tinggi usaha pribadinya,” kata Arfan B. Folasimo, salah satu pengemudi bentor.

BACA JUGA  Usul Sultan Zainal Abidin Syah Sebagai Pahlawan, Pemkot Tikep Bakal Gelar Seminar Di Jakarta

Menurut Arfan, kehadiran 10 kendaraan Bajaj tersebut akan memberi dampak buruk terhadap penghasilan para pengendara bentor, ojek maupun kendaraan angkutan umum lainya. Bahkan dampaknya akan jauh lebih buruk dari penyebaran virus corona.  “Jika 10 unit bajaj itu datang dan mendapatkan ijin trayek maka bisa dipastikan kedatangan 10 unit bajaj tersebut lebih berbahaya dari corona virus atau Covid-19 dan apa yang kami lakukan dihari ini tidak ada respon positif dari pihak  Pemerintah kota Tidore maka kami akan melakukan aksi lanjutan untuk menolak kehadiran bajaj dengan massa aksi yang lebih besar lagi,” tegasnya.

Sebelumnya, Pemkot Tikep telah mendatangkan 14 unit Bajaj. Dari jumlah tersebut 4 unit bersumber dari APBD dan 8 unit dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2919. 14 Bajaj tersebut sebagai bantuan ke para petani dengan tulisan “Tidore Aman Petani Maju Masyarakat Sejahtera.”

Namun belakangan diketahui 2 unit dari 14 Bajaj tersebut diklaim milik Nurmala Ismail dan digunakan untuk mengangkut penumpang. “Kami sudah diskusikan masalah bajai ini dengan Kadis Perhubungan, Daut Muhammad dan beliau mengatakan bahwa dirinya tidak tahu menahu soal bajai ini dan dirinya meminta agar bisa menahan bajai tersebut bila mengakut penumpang Karane sampai saat ini belum ada ijin trayek angkutan,” kata Anwar Abdullah Kordinator Bentor Tidore Utara.

BACA JUGA  Ketua PATELKI Tikep Siap Divaksin

Meskipun demikian kata Anwar, Nurmala Ismail tetap mengelak. Bahkan Nurmala mengaku Daut Muhammad telah melakukan sosialisasi terhadap Bajaj tersebut. “Ibu Nurmala bilang kepada kami, kalau kalin merasah merugikan, harga bajai hanya enam puluh juta dan penyetorannya hanya lima puluh ribu rupiah saya dapat apa coba,”  ujar Anwar meniru pernyataan Nurmala. (Red)

Reporter: Musa Abukar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here