Puskesmas Galala Gelar Lokakarya Mini Lintas Sektor

 

Kegiatan Lokakarya Mini Lintas Sektor

SOFIFI, CH– Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Puskesmas Rawat Inap Galala Kecamatan Oba Utara, Kota Tidore Kepulauan, Propinsi Maluku Utara (Malut), melakukan kegiatan Lokakarya Mini Lintas Sektor Triwulan III 2024.

Kegiatan ini dengan tujuan melakukan evaluasi capaian pelayanan membangun komitmen lintas sektor. Kegiatan tersebut dipusatkan di  Aula Do Mahmud, Kantor Camat Oba Utara Rabu, 28/8/2024.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut diantaranya, Camat beserta staf, Kepala UPT. puskesmas Galala, Yang mewakili Kapolsek, Yang mewakili Dandramil,perwakilan dari RSUD Sofifi, Kepala Uptd Dinas Kebersihan, Lura dan seluruh Kepala Desa se Kecamatan Oba Utara.

Camat Oba Utara,  Rusdi  Djamaludin S.ag, membuka kegiatan tersebut menyampaikan, bahwa lintas sektor sudah lama dilakukan, dengan tujuan adalah bagian dari evaluasi.

“Kita lakukan gerakan semua stekholder, kehadiran kita di sini adalah kaloborasi melakukan langka langka kegiatan kesehatan. Sehingga  dapat menyanpaikan sosialisasi ke masyarakat terkait masaalah kesehatan ini,” jelasnya.

Dirinya berharap pertemua ini tidak sebatas di ruangan ini, melainkan dilanjutkan ke desa -desa. Untuk itu menurut dia, para kepala desa wajib hadir, bukan hanya mengirim perwakilan.

“Kalau kadesnya tidak hadir, maka perwakilan Kades harus paham betul agar dapat menyampaikan ke kades degan baik sehingga penyampaian tersebut diterima oleh masyarakat dengan baik terkait kegiatan ini. Semoga pada tingkat 4 nanti ada perubahan kesehatan di wilayah Kecamatan Oba Utara,” ujarnya.

Sementara Kapus Galala Oba Utara, Ns. Rosmini Abd.kadir,S.Kep mengatakan, pertemuan lintas sektor ini desainnya hanya pada pembukaan atau seremonialnya. Setelah pembukaan dibentuk meja bundar, kemudian dipresentasikan oleh panitia.

“Tetapi perlu juga diketahui bahwa kegiatan Kesehatan di desa itu bukan di sortir atau di stir oleh puskesmas tidak, tapi masing-masing pihak yang berkesempatan dalam kegiatan ini punya kesempatan mau buat apa di desanya ke depan berkaitan dengan kondisi kesehatan yang di alami oleh desa saat ini,” katanya.

Dijelaskan metode yang dipakai adalah cetingan Jelita.  Cetingan Jelita adalah metode jemput, layani, antar. Inovasi ini diangkat karena di triwulan sebelumnya ada 12 orang penderita stunting.

“Saat ini kita sudah ada 17 penderita Stunting yang tersebar di 11 dari 13 desa kelurahan. Dari 17 tersebut yang 1 sudah mulai lulus tinggal 16 yang saat ini lagi di interfensi.dari 16 ada 5 orang dengan latar blakang penyakit tertentu sampai sudah masuk pada gizi buruk,” sebutnya.

Dirinya berharap kegiatan ini dapat meningkatkan cakupan pelayanan kepada anak sekolah serta mendapatkan dukungan dan masukan dari lintas sektor dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada masyarakat. (yd)

Show More
Back to top button