Diduga Perkosa Gadis Disabilitas, Paman Korban Yakin Pelaku Tidak Melakukanya

Ilustrasi Korban Pemerkosaan
TIDORE, CH – Dugaan pemerkosaan terhadap seorang gadis disabilitas di Kota Tidore Kepulauan (Tikep) oleh pelaku berinisial BF (54) belum mendapatkan titik terang. Kini pelaku justru mendapat pembelaan dari keluarga korban.
Kasus yang terjadi sejak April 2022 lalu itu hingga saat ini masih dalam tahap proses pemeriksaan. Korban sendiri, sebut saja Bunga (21), warga salah satu desa di Kecamatan Tidore. Bunga masuk dalam daftar gadis disabilitas (keterbatasan fisik, intelektual, mental).
BF dilaporkan ke pihak kepolisian oleh keluarga Bunga atas tuduhan memperkosa Bunga pada April 2022 atau tepatnya di Bulan Puasa. Namun tuduhan itu dibantah langsung oleh Hama, selaku paman Bunga, serta Emi menantu dari ibu angkat si Bunga.
Hama, saat ditemui media ini mengaku, selama lima tahun dirinya selalu mendampingi BF saat melakukan pengobatan ke korban Bunga.
“Selama BF melakukan pengobatan ke ponakan saya (bunga), saya selalu berada di sisi mereka. Pas di bulan puasa saya meminta BF datang untuk melakukan pengobatan. Dan benar adanya BF berbuka puasa di kediaman Emi bersama SS akan tetapi tidak lama setelah itu BF sudah kembali,” cerita Hama.
Lanjut Hama, pada 20221 lalu, dirinya meminta BF untuk datang mengobati korban yang saat itu pusing kepala dan terjatuh. Kedatangan BF sendiri di sore hari. Setelah korban sadar, BF diminta oleh ibu angkat korban untuk memijat punggung korban tanpa mengangkat baju korban.
“Melainkan yang mengangkat pakaian (bunga) itu ibu angkatnya, karena saya, istri saya, ibu angkat korban, dan juga Emi yang merupakan bibi korban selalu berada di samping korban, setelah selesai BF langsung pulang, bahkan BF tidak pernah nginap selama ini,” akunya.
Hama ikut kesal dengan keluarga Bunga yang telah melaporkan BF atas tuduhan pemerkosaan. Menurutnya, jika benar terjadi pemerkosaan, maka dirinya yang berhak melaporkan BF kepihak berwajib, karena dirinya yang selalu berada di samping BF dan bunga saat pengobatan.
“Mereka yang menuntut BF selama lima tahun tidak pernah terlihat di tempat kejadian. Jika kasus ini berlanjut ke persidangan saya siap menjadi saksi BF,” tegasnya.
Sementara itu Emi yang merupakan menantu dari ibu angkat Bunga saat dikonfirmasi mengaku tidak yakin dengan tuduhan yang dialamatkan kepada BF. Emi menganggap BF dijebak atas tuduhan pemerkosaan yang terjadi di warung miliknya.
“Saya tara yakin sekali untuk paitua (BF) bawa anak (bunga) itu kalao di saya punya dalam kios, itu saya tra yakin sekali. Saya punya firasat dong (pelapor) cuma kase jebak paitua saja. Sejak kapan BF ka atas pange anak itu kase mandi di sini (warung). Sedangkan saya pigi saya punya pintu (warung) saya slot samua, jadi paitua mau masuk ikut mana,” bantahnya.
Emi juga menegaskan, paska malam kejadian seperti yang dituduhkan pihak pelapor, pagi harinya korban datang membeli sabun rinso di warung miliknya. Saat itu, Emi tidak melihat perubahan tingkalaku yang berbeda dari korban.
“Kejadian itukan malam, paginya dia (korban) kamari beli rinso di saya, dia seperti biasa, tapi dong (pelapor) carita di saya bilang om (BF) itu manakal ana (bunga) tapi pagi dia (bunga) kamari beli rinso dia pe kondisi tidak apa apa,” tegasnya.
Sementara itu, BF saat ditemui di kediamannya menceritakan, bahwa dirinya dipercayakan untuk mengobati Bunga oleh keluarga Bunga. Bahkan dirinya telah menggap Bunga seperti anaknya sendiri.
“Anak itu sakit dan setiap saya mengobati dia (bunga) selalu didampingi oleh keluarganya, baik paman dan juga ibu angkat, bahkan Emi juga. Anak (bunga) itu saya anggap seperti anak sendiri,” tuturnya.
BF mengaku atas dugaan kasus ini, dirinya sudah beberapa kali menghadiri panggilan polisi untuk dimintai keterangan. BF secara tegas menbantah tudingan pemerkosaan yang dialamatkan kepadanya.
“Saya akan melaporkan pihak keluarga korban karena telah mencemarkan nama baik dan keluarga saya,” ancamnya.

Reporter: Musa Abubakar
Editor: Suhardi Koromo







