Warga Buli Tolak PT. Prifen Lestari

717
Camat Maba Robert Barbaken

BULI, Ch – Rencana pembukaan lahan produksi tambang nikel oleh PT. Prifen Lestari di Buli Kecamatan Maba Kabupaten Halmahera Timur (Haltim)  Propinsi Maluku Utara (Malut) tidak akan berjalan mulus. Warga setempat secara tegas menolak hadirnya perusahaan tersebut.

Pasalnya perusahaan yang rencananya akan beroperasi di Gunung Wato-wato itu terkesan membongi warga. Pihak perusahaan berjanji bahwa paska Analisis Dampak Lingkungan (Andal)  yang berlangsung di Kota Ternate sejak Mei 2018, namun hingga saat ini tidak ada lagi kabar dari pihak perusahaan.

“Kepada masyarakat jangan berharap bahwa PT. Prifen akan beroprasi, sebab sampai saat ini tidak ada kabar baik dari perusahaa setelah  pembahasan Amdal,” kata Greiz Reisen Tatengkeng, mantan Kepala Desa Buli, Rabu (31/7/2019).

Greiz juga mengingkat kepada pihak perusahaan meskipun pemerintah daerah maupun pemerintah desa menerima perusahaan untuk beroperasi sesuai aturan, namun keputusan ada di masyarakat. “Jadi kalau PT. Prifen mau melakukan pembebasan lahan, pertemuan terlebih dahulu dengan masyarakat, kalau itu tidak dilaksanakan maka PT. Prifen Lestari angkat kaki dari Tanah Buli, karena ini juga masuk dalam Amdal,” tuturnya.

Selain janji yang tidak ditepati pihak perusahaan, penolakan ini juga dilakukan oleh warga terkait dengan dampak lingkungan yang akan membahayakan warga.”Alasan masyarakat Buli Asal dan Wayafli menolak PT. Prifen Lestari untuk buka lahan dibelakang Desa Wayafli, karena pusatnya air bersih kedua desa tersebut, kalau sampai buka maka limbahnya akan dampak pada Air bersih, karena jarak lokasi tambang dengan pemukiman warga hanya satu kilo lima ratus meter,” sambung Yehuda Guslaw, Kepala Desa Wayafli.

BACA JUGA  Proyek Air Bersih Rp. 9,2 Miliar Di Wasile Tengah Mubajir

Lanjut Yehuda, perusahaan mau buka lahan tambang di belakang Desa Buli sampai Baburino tidak bermasaalah, asalkan ada persetujuan masyarakat dan  Pemerintah Desa. “Masyarakat Buli Asal dan Wayafli sudah melanyangkan surat penolakan ke pihak perusahaan dan Lingkungan Hidup Provinsi Maluku Uatara, minggu kemarin, ini membuktikan bahwa masyarakat Buli Asal dan Wayafli menolak,” tegasnya.

Sementara itu, Camat Maba Robert Barbakem, saat di temui di ruang kerjanya  mengatakan, aktifitas PT. Prifen Lestari di Buli masih abu-abu, ini disebabkan karena lahan yang akan di produksi belum jelas,  ada lahan yang berdekatan dengan pemukiman warga dan ada lahan yang jauh dari warga yang jaraknya berkisar 50 kilo meter, belum lagi ada persetujuan dari sebagaian warga.

Lanjut Robert, mengenai perusahaan ini, sudah ada pertemuan dari berbagai elemen  yang berada di Kecamatan Maba yang di mediasi oleh Aliansi Pemuda Buli Asal-Wayafli. “Hasilnya menolak PT. Prifen Lestari untuk Beroprasi, karena dikuatirkan dampak yang akan terjadi, seperti Banjir, Longsor, dan pencemaran lingkukan,” bebernya.

BACA JUGA  Gempa Warga Kota Maba Berhamburan di Jalan

Perlu diketahui,  pembahasan Andal yang dilaksanakan pada  Mei 2018 di Ternate,  dihadiri oleh 10 kepala desa dalam wilayah Kecamatan Maba, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, tokoh adat, ormas, Camat Maba, Koramil dan Kapolsek Maba. Dalam kesepakatan di dalam andal teraebut, selama 3 bulan terhitung Juni sampai Agustus PT. Prifen melakukan pengeboran yang sudah selesai dilakukan. Setelah itu PT. Prifen mulai melakukan pembukaan lahan, namun janji tersebut sampai pada pertengahan 2019 ini belum juga terlaksana.

“Kami masyarakat Kecamatan Maba, menuntut janji ke PT Prifen Lestari ,sesuai jaji andal dalam waktu dekat segera beroprasi ,tetapi ternyata janji tingal janji, kalu cuman janji maka kami masarakat meminta kepada  Lingkuangan Hidup Propinsi Maluku Utara segera cabut ijin PT Prifen Lestari dari Tanah Buli ini,” tutup Bati, warga setempat. (Ady)

Reporter: Nehemia Bustami

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here